Memaknai Perjalanan
Jika membahas pengalaman ini saya hanya memaknai sebagai kesan "Penerimaan", namun bukan dalam hal sebagai subjek atau yang merasa harus menerima, melainkan sebuah perasaan diterima oleh sebuah interaksi besar yang sifatnya terus berlanjut sampai hari ini. Saya pribadi merasakan diterima sebagai bagian besar dalam keluarga informal salah satunya di balik perjalanan ini.
Waktu itu sebenarnya tidak bisa disimpulkan sebagai murni kegiatan berwisata, sebab tujuan utama keberangkatan adalah mengkonstruksi dan membangun visi dan misi organisasi sekolah. Sedikit informasi, jadi pengalaman ini terjadi waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, waktu masih menjadi siswa bercelana abu-abu dengan konstruksi berpikir yang belum teramat matang, sementara sekarang mungkin tetap sama tapi tentu dengan daya kritis yang agak berbeda.
Kembali ke inti cerita, saat itu keputusan Organisasi Siswa Intra Sekolah adalah melakukan musker (musyawarah kerja) yang direncanakan bertempat di salah satu objek wisata yang cukup terkenal di daerah saya (di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan) yakni pulau Cambang-cambang. Memang objek wisata yang satu ini mengundang banyak perhatian. Suasana alam yang indah, pasir yang berdesir, penginapan mini dengan arsitektur yang cukup menarik, dan haru biru lautan tentu menjadi fasilitas gratis yang memanjakan mata sesiapa pun yang memutuskan untuk berwisata di tempat ini.
Saya dan rombongan berangkat dari sekolah menuju ke lokasi menggunakan bus, kemudian setelah sampai masih harus berganti kendaraan yakni menggunaka perahu berukuran sedang untuk menuju ke lokasi wisata. Sekitar 15 menit mengarungi lautan, akhirnya kami sampai di Pulau Cambang-cambang. Indah, asri dan masih sedikit alami adalah kesan pertama yang pasti akan ditemui ketika tiba di pulau yang satu ini. Kalau sekarang saya tidak tahu sebab pengalaman ini terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu.Mungkin lebih indah lagi karena terlihat ada usaha pengelolaan pemkab (pemerintah kabupaten) untuk objek-objek wisata yang berada di daerah.
Namun, tentu ketika sampai di lokasi wisata, urusan yang lebih penting adalah yang patut diutamakan. Oleh karena itu, kami bersegera untuk mempersiapkan kegiatan musker mulai dari menyewa beberapa villa hingga persiapan non-fisik seperti mempersiapkan diri dan berpikir untuk membahas hal apa saja dalam musker. Singkatnya, semalaman suntuk kami habiskan dengan membahas rencana atau agenda kegiatan organisasi kedepannya, pembagian konsentrasi masing-masing divisi, tidak lupa juga dengan beberapa peraturan yang disepakati. Ketok palu Ketua OSIS agaknya menjadi benda sakral saat rapat besar ini, sebab ketika benda ini berbunyi maka pasti sebuah peraturan sudah menjadi kesepakatan, dan lebih jauh lagi menjadi sebuah tanggung jawab bersama.
Setelah diskusi besar selesai, maka keesokan harinya beberapa orang dari rombongan - saya tidak termasuk, dalam artian saya hanya memilih untuk menikmati suasana pulau - mengalihkan tujuannya untuk berwisata, menikmati wahana-wahana khas wisata kepulauan. Jika dikatakan saya menikmati perjalanan, mungkin bisa disimpulkan demikian, sebab saya menikmatinya dengan versi saya sendiri (walaupun saat itu realistasnya agak berbeda). Saya pribadi senang berada dalam sebuah interaksi yang menumbuhkan rasa penerimaan, dan dalam keluarga informal yang besar ini sepertinya saya telah mendapatkannya. Berbicara dengan tokoh penuh sifat keteladanan (para guru), mengambil inspirasi, membangun keakraban, semuanya bermuara pada satu titik temu yakni rasa diterima dalam interaksi besar. Interaksi besar ini terus berlanjut sampai sekarang, walaupun dengan alur, suasana, pola yang sudah berbeda, sebab saya dan orang-orang yang terhimpun dalam rombongan (termasuk guru-guru yang saya teladani) tidak akan pernah bisa membendung arus perubahan. Sederhananya, saya yakin (Insyaa Allah) pertemuan dengan interkasi sosial yang besar ini akan terus berlanjut, walaupun tentu dengan episode yang berbeda, unik, dan semakin dinamis. Saya mengalami perubahan dan orang lain pun juga mengalaminya. Hal itu sudah menjadi hukum Allah yang paten bagi hamba-hamba-Nya.
Akhirnya, kesan "diterima dalam sebuah interaksi besar" adalah tentu menjadi hikmah dalam perjalanan saya waktu itu, walaupun saya baru menarik pemahaman ini jauh setelah kejadian. Ya, begitulah ketika kita merumuskan hikmah di setiap perjalanan dalam hidup, kadang sulit untuk mendapatkannya secara langsung, dalam artian saat kejadian itu benar-benar terjadi. Kita baru terpikirkan dan bisa merumuskan jauh setelah perjalanan itu terjadi.
Setelah diskusi besar selesai, maka keesokan harinya beberapa orang dari rombongan - saya tidak termasuk, dalam artian saya hanya memilih untuk menikmati suasana pulau - mengalihkan tujuannya untuk berwisata, menikmati wahana-wahana khas wisata kepulauan. Jika dikatakan saya menikmati perjalanan, mungkin bisa disimpulkan demikian, sebab saya menikmatinya dengan versi saya sendiri (walaupun saat itu realistasnya agak berbeda). Saya pribadi senang berada dalam sebuah interaksi yang menumbuhkan rasa penerimaan, dan dalam keluarga informal yang besar ini sepertinya saya telah mendapatkannya. Berbicara dengan tokoh penuh sifat keteladanan (para guru), mengambil inspirasi, membangun keakraban, semuanya bermuara pada satu titik temu yakni rasa diterima dalam interaksi besar. Interaksi besar ini terus berlanjut sampai sekarang, walaupun dengan alur, suasana, pola yang sudah berbeda, sebab saya dan orang-orang yang terhimpun dalam rombongan (termasuk guru-guru yang saya teladani) tidak akan pernah bisa membendung arus perubahan. Sederhananya, saya yakin (Insyaa Allah) pertemuan dengan interkasi sosial yang besar ini akan terus berlanjut, walaupun tentu dengan episode yang berbeda, unik, dan semakin dinamis. Saya mengalami perubahan dan orang lain pun juga mengalaminya. Hal itu sudah menjadi hukum Allah yang paten bagi hamba-hamba-Nya.
Akhirnya, kesan "diterima dalam sebuah interaksi besar" adalah tentu menjadi hikmah dalam perjalanan saya waktu itu, walaupun saya baru menarik pemahaman ini jauh setelah kejadian. Ya, begitulah ketika kita merumuskan hikmah di setiap perjalanan dalam hidup, kadang sulit untuk mendapatkannya secara langsung, dalam artian saat kejadian itu benar-benar terjadi. Kita baru terpikirkan dan bisa merumuskan jauh setelah perjalanan itu terjadi.
****

Komentar
Posting Komentar